Monday, May 23, 2011

Sudahkah Shalat Kita Menghadap Ke Arah Kiblat?

PENGERTIAN

Kiblat berasal dari bahasa Arab ( قِبۡلَةً۬ ) adalah arah yang merujuk ke suatu tempat dimana bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Ka’bah juga sering disebut dengan Baitullah (Rumah Allah). Menghadap arah merupakan suatu masalah yang penting dalam syariat Islam. Menurut hukum syariat, menghadap kea rah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke arah Ka’bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu. Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa di Palestina, namun pada tahun 624 M setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, atas petunjuk dari wahyu Allah SWT arah Kiblat berpindah ke arah Ka’bah di Mekkah. Berapa ulama berpendapat bahwa turunnya wahyu perpindahan kiblat ini karena Rasulullah hatinya sangat resah karena posisi kiblatnya berlawanan arah dengan Ka’bah. Oleh karena itulah kemudian turun surat Al-Baqoroh ayat 144 yang memerintahkan untuk merubah arah kiblat. Allah SWT berfirman :

قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةً۬ تَرۡضَٮٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُ ۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ (١٤٤)

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.


DALIL  TENTANG ARAH KIBLAT.

1.       Firman Allah :


وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ وَإِنَّهُ ۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (١٤٩)
Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram ; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Baqarah : 149)

2.       Firman Allah :


وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَڪُمۡ شَطۡرَهُ ۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡہُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِى وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِى عَلَيۡكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (١٥٠)

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk (QS. Al-Baqarah : 150).

3.       Sabda Rasulullah.

Dari Abu Hurairah ra katanya : Sabda Rasulullah saw. Di antara Timur dan Barat terletak kiblat ( Ka’bah) (HR. At-Tirmidzi) 

4.       Hadits Rasulullah :

Dari Anas Bahwasannya Rasulullah s.a.w (pada suatu hari) sedang mendirikan sholat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turunlah ayat Al-Quran : “Sesungguhnya kami selalu melihat mukamu menengadah ke langit (berdoa mengadap kelangit). Maka turunlah wahyu memerintahkan Baginda mengadap ke Baitullah (Ka’bah). Sesungguhnya kamu palingkanlah mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Kemudian seorang lelaki Bani Salamah lalu, ketika itu orang ramai sedang ruku’ pada rakaat kedua shalat fajar. Beliau menyeru, sesungguhnya kiblat telah berubah. Lalu mereka berpaling ke arah kiblat. (HR. Muslim).

HUKUM ARAH KIBLAT.

Kiblat sebagai pusat tumpuan umat Islam dalam mengerjakan ibadah dalam konsep arah terdapat beberapa hukum yang berkaitan yang telah ditentukan secara syariat yaitu :

a.       Hukum Wajib.

1.       Ketika shalat fardhu ataupun shalat sunat menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat.
2.       Ketika melakukan tawaf ke Baitullah.
3.       Ketika menguburkan jenazah maka harus diletakkan miring bahu kanan menyentuh liang lahat dan muka menghadap kiblat.

b.      Hukum Sunat

Bagi yang ingin membaca Al-Quran, berdoa, berdzikir, tidur (bahu kanan dibawah) dan lain-lain yang berkaitan.

c.       Hukum Haram

Ketika membuang air besar atau kecil di tanah lapang tanpa ada dinding penghalang.

d.      Hukum Makruh.

Membelakangi arah kiblat dalam setiap perbuatan seperti membuang air besar atau kecil dalam keadaan berdinding, tidur menelentang sedang kaki sedang selunjur ke arah kiblat dan sebagainya.

KONSEP IJTIHAD DALAM MENENTUKAN ARAH QIBLAT.

Semua empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali telah bersepakat bahwa menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Bagi Mazhab Syafii telah menambah dan menetapkan tiga kaidah yang bisa digunakan untuk memenuhi syarat menghadap kiblat yaitu :

1.       Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin)

Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat dengan penuh yakin. Ini yang juga disebut sebagai “Ainul Ka’bah”. Kewajiban tersebut bisa dipastikan terlebih dahulu dengan melihat atau menyentuhnya bagi orangyang buta atau dengan cara lain yang bisa digunakan misalnya pendengaran. Sedangkan bagi seseorang yang berada dalam bangunan Ka’bah itu sendiri maka Kiblatnya adalah dinding Ka’bah.

2.       Menghadap Kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan).

Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada diluar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau kiraan atau disebut sebagai “Jihadul Ka’bah”. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan bertanya kepada mereka yang mengetahui seperti penduduk Makkah atau melihat tanda-tanda kiblat atau “shaff” yang sudah dibuat di tempat-tempat tersebut.

3.       Menghadap Kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad).

Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar Negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat Dzan nya maka ia boleh menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah Kiblat. Namun bagi yang dapat mengira maka ia wajib ijtihad terhadap arah kiblatnya. Ijtihad dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram. Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran menggunakan peralatan modern. Bagi lokasi atau tempat yang jauh seperti Indonesia, ijtihad arah kiblat dapat ditentukan melalui perhitungan falak atau astronomi serta dibantu pengukurannya menggunkan peralatan modern seperti kompas, GPS, theodolit dan sebagainya. Penggunaan alat-alat modern ini akan menjadikan arah kiblat yang kita tuju semakin tepat dan akurat. Dengan bantuan alat dan keyakinan yang lebih tinggi maka hukum Kiblat Dzan akan semakin mendekati Kiblat Yakin. Dan sekarang kaidah-kaidah pengukuran arah kiblat menggunakan perhitungan astronomis dan pengukuran menggunakan alat-alat modern semakin banyak digunakan secara nasional di Indonesia dan juga di Negara-negara lain. Bagi orang awam atau kalangan yang tidak tahu menggunakan kaidah tersebut, ia perlu taqlid atau percaya kepada orang yang berijtihad.

CARA PRAKTIS MENGOREKSI ARAH  KIBLAT

Ada beberapa cara untuk menentukan dan mengukur arah kiblat, diantaranya dengan rumus segitiga bola, menggunakan kompas kiblat, perhitungan manual dengan menggunakan kompas, software arah kiblat, software Google Earth dan lain-lain. Masing-masing cara itu mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Berikut disajikan cara praktis untuk menentukan arah kiblat khusus untuk Kota Surakarta.

Ka’bah terletak di garis lintang 21 derajat 25 menit LU sehingga setiap tahunnya mengalami dua kali perlintasan Matahari yang sedang menjalani gerak semu tahunannya dari garis balik utara (garis lintang 23,5 derajat LU) ke garis balik selatan (garis lintang 23,5 derajat LS) dan sebaliknya. Saat tepat melintas garis lintang Ka’bah dan tepat mneyebrangi meridiannya (garis bujur 39 derajat 50 menit BT), secara astronomis kedudukan Matahari tepat di atas Ka’bah. Sehingga setiap benda yang tersinari cahaya Matahari saat itu, sepanjang posisinya tepat mengarah ke pusat Bumi, maka baying-bayangnya tepat mengarah ke Ka’bah. Dunia ilmu falak menyebut situasi itu sebagai Istiwa’ Adham, Istiwa’ Utama atau Rashdul Qiblat. Sementara hari terjadinya peristiwa tersebut dinamakn Hari Kiblat atau Yaumul Qiblah atau Qibla Day.

Tahun ini Hari jatuh pada Sabtu 28 Mei 2011 pukul 16.17 WIB. Inilah saatnya untuk mengukur kembali arah kiblat kediaman/ tempat ibadah kita dengan cara sederhana namun mempunyai tingkat ketelitian sangat tinggi. Praktiknya cukup dengan memasang bandul bertali, (lot) yang digantung, sehingga posisi tali (saat stasioner) otomatis langsung mengarah ke pusat Bumi. Setelah tiba saatnya, baying-bayang tali tinggal ditandai dan digaris di permukaan tanah/ lantai dan inilah arah kiblat yang tepat. Jangan lupa gunakan jam/ pengukur waktu yang tepat, sebab inilah kuncinya. Untuk membuat sebuah jam tepat bisa dicocokkan (dikalibrasikan) dengan siaran berita radio RRI/ BBC atau dengan menelfon nomor melalui jaringan PT Telkom, baik telpon rumah maupun nirkabel (ponsel).

Bila pada hari dan jam itu langit mendung, jangan khawatir. Dengan diameter nampak (apparent diameter) Matahari sebesar 0,5 derajat maka Hari Kiblat sebenarnya terjadi sejak 27 hingga 29 Mei 2011 pada jam 16.17 WIB.  

No comments:

Post a Comment

GET $ 1000 DOLLARS FROM PAYPAL

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PRIZEGOD

Prizegod.com