Wednesday, June 1, 2011

Komentar Al-Ihsan

Wali presiden Boediono menegaskan keberadaan kelompok radikal merupakan ancaman terhadap bangsa Indonesia. Di sisi lain bangsa Indonesia juga tengah menghadapi ancaman berupa globalisasi  

Jangan terkecoh, Kapitalismelah yang justru menjadi ancaman hakiki dan terbesar bagi negeri ini dan rakyatnya. Waspadai kampanye negatif terhadap Islam dan syariahnya. 

Penjelajah Yang Bukan Penjajah

Muslim Liburan sekolah segera tiba. Apakah Anda suka jalan-jalan dan akan memanfaatkan waktu liburan untuk pergi melancong? Ke luar negeri? Umrah? Orang yang sedang jalan-jalan disebut pelancong atau turis. Profesinya boleh macam-macam. Tidak hanya pedagang ekspor-impor, diplomat atau pramugari saja yang bisa ke luar negeri. Di negeri maju, berprofesi sebagai penjual es krim saja bisa nabung untuk jalan-jalan ke luar negeri. Tetapi ada orang yang profesinya melancong, bahkan sebagian besar usianya dihabiskan di perjalanan, itulah para penjelajah.

                Dahulu, alat transportasi belum canggih. Perjalanan masih harus dilakukan dengan naik kuda, unta atau kapal laut. Sehari kuda atau sehari kapal layar paling hanya menempuh jarak 80-100 kilometer. Selain itu satelit pemantau bumi maupun satelit navigasi juga belum ada. Alat telekomunikasi untuk bertukar kabar dengan orang di kampong halaman juga belum ada. Orang yang nekad berprofesi menjadi penjelajah amat sangat langka. Merekalah yang kemudian mengabarkan tentang dunia negeri antah berantai. Selain itu terserah kepada para penguasa ataupun pedagang, untuk apa pengetahuan itu akan dimanfaatkan.

                Ketika para penjelajah ini didominasi orang-orang Barat, penjelajahan membuahkan penjajahan. Dengan kaki tangan yang biasanya orang-orang lokal yang bisa dibeli, negeri-negeri baru itu dikuasai, rakyatnya diperbudak, kebudayaannya dimanipulasi dan sumber daya alamnya dikuras. Tetapi lain halnya ketika para penjelajah ini didominasi orang-orang Islam. Salah satu contoh yang paling besar adalah Ibnu Battutah.
                Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah al-Lawati al Tanji ibn Battutah lahir di Tanger Maroko, 24 Februari 1305 M (tahun 703 H) adalah utama dari madzhab Maliki dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim).

Hingga wafatnya pada tahun 1368 (sumber lain menulis 1377 M) dia telah melawat sejauh 117.000 Km, meliputi seluruh dunia Islam yang telah dikenal dan selebihnya, sejak dari Afrika Barat, Afrika Utara, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, hingga China. Total 44 negara modern telah dia jelajahi. Dia jauh melampaui penjelajah paling top hingga saat itu yaitu Marco Polo.

                Atas undangan Sultan Maroko Abu Inan Faris, beberapa tahun setelah kepulangannya, Ibnu Batuttah mendiktekkan sejumlah perjalanannya kepada seorang penulis bernama Ibnu Juzayi. Kitab yang kemudian secara singkat dijuluki “Ar-Rihlah” inilah sumber utama info petualangannya. Hampir seluruh isi kitab ini – juga tentang kehidupannya – berasal dari sumber, yaitu Ibnu Batuttah sendiri. Mungkin apa yang dia klaim dilihat atau dilakukannya agak sedikit diwarnai fantasi, tetapi untuk sebagian besar memang tidak ada cara lain untuk memverifikasinya. Namun dengan kompleksitas masalah yang diceritakan, serta dengan posisi dia sebelumnya sebagai seorang qadhi yang faqih, kita dapat mengasumsikan bahwa dia jujur, dan apa yang diceritakannya itu fakta.

                Awal dari penjajahan Ibnu Batuttah adalah perjalanan haji yang ia lakukan pada usia 20 tahun. Perjalanan ini melalui Kairo, Damaskus, Palestina dan Madinah. Setelah haji ia tidak langsung pulang, melainkan melanjutkannya ke negeri yang dikuasai pemerintah Mongol II-Khanate yang kini dikenal sebagai Irak dan Iran.

                Setelah itu dia ke semenanjung Arabia, terus ke Afrika. Dia telah mengunjungi Mogadishu, Mombassa, Zanzibar dan Kilwa. Kemudian ia balik ke Mekkah lagi.

                Ibnu Batuttah mengalami banyak gegar budaya (culture schock) di daerah yang dia kunjungi, yang memiliki budaya sangat berbeda dengan latar belakangnya. Dia menyaksikan orang-orang Turki dan Mongol yang masuk Islam. Dia melihat pakaian wanita yang lebih bebas di Maladewa dan sub-Sahara. Dia banyak menerima beraneka souvenir dari penduduk local, yang tentu saja akan membebaninya sepanjang sisa perjalanannya, karena saat itu belum ada jasa paket internasional.

                Dalam setiap rutenya, Ibnu Batuttah sering bergabung dengan suatu kafilah dagang. Bahkan dia sendiri sering mencoba peruntungannya sebagai pedagang. Di tahun yang lain, karena menguasai beberapa bahasa internasional (Arab, Persia, Romawi) dia mencari pekerjaan sebagai guide dan penerjemah.

                Ibnu Batuttah melampaui batas negara Islam ketika dia sampai ke Konstantinopel dan China. Pada akhir 1332 M, dia bertemu Kaisar Andronicus III Palaeologus dan melihat katedral Hagia Sophia dari luar. Kemudian dia melanjutkan  ke laut Caspia, laut Aral, Bukhara dan Samarkhand. Kemudian dia melanjutkan ke Afghanistan, dan melintasi pegunungan ke India.

                Sultanat Delhi, salah satu eks negara Mongol yang masuk Islam dan sedang banyak mengimpor sebanyak mungkin ulama Islam untuk mengajar, menggajinya untuk menjadi qadhi. Namun kehidupan istana tidak menurunkan jiwa petualangan Ibnu Batuttah. Ketika dia berniat naik haji lagi, Sultan Tughlaq dari Sultanat malah menawarinya jadi duta besar ke China. Karena ini kesempatan untuk menjelajahi dunia baru, Ibnu Batuttah menerima tawaran ini. Pada perjalanan ke China via  inilah dia sempat singgah di Samudera Pasai atau Aceh sekarang ini yang, yang penduduknya sudah masuk Islam.

                Tetapi penguasaannya ke China ini dinilai kurang akses. Dia sempat kembali ke India di bawah perlindungan Sultan Jamaluddin. Namun ketika pemerintahan ini digulingkan, Ibnu Batuttah pindah ke Maladewa. Di pulau yang semula mayoritas Budha ini, Ibnu Batuttah terpaksa tinggal lebih lama. Namun keahliannya sebagai qadhi kemudian dibutuhkan, bahkan dia dinikahkan dengan putrid keluarga istana. Namun dia schock mendapati wanita non Muslim di pulau itu terbiasa telanjang dada di area publik. Kritiknya atas kebiasaan ini membuatnya dilecehkan oleh penduduk local. Maka kemudian dia meninggalkan pulau itu menuju Srilangka. Namun di tengah lautan kapalnya tenggelam oleh badai, dan kapal yang menolongnya dibajak oleh bajak laut. Dia akhirnya terdampar di India kembali.

                Ketika dia hampir memutuskan balik ke Maladewa, dia bertemu degan pelaut Cina, yang mengajaknya kembali ke Cina (Dinasti Yuan). Kali ini dia sukses. Selain mengunjungi banyak kota di Cina, juga mengunjungi Vietnam, Filipina dan Sumatra.

                Setelah sampai di Damaskus, dia mendengar berita bahwa ayahnya telah wafat oleh wabah yang sedang menjadi tema dunia saat itu, yaitu penyakit pes (black death). Akhirnya setelah naik haji kembali ke Mekkah, Ibnu Batuttah kembali ke Maroko.

Namun sesampai di kampung halamnnya, tak lama kemudian dia berangkat lagi ke Andalusia. Kali ini sekaligus untuk mempertahnkan beberapa wilayah Isalm dari ancaman serangan Kristen Spanyol. Namun kemudian dia kembali ke Maroko dan menjelajahi Afrika Barat Tahun 1351 (pada usia 46 tahun) dia sampai ke Timbuktu.
                Setelah publikasi ar-Rihlah, dia dipilih sebagai qadhi di Maroko. Sampai tahun 1800-an, bukunya tetap dianggap aneh sekalipun di dunia Islam. Sama seperti buku Marcopolo di Eropa. Baru tahun 1800-an, bukunya mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa, Sejak itu, Ibnu Batuttah makin terkenal, sebagai penjelajah dan penulis.
Untuk menghormatinya, para astronom telah menamai sebuah kawah di bulan dengan namanya. Demikian juga sebuah mall di Dubai (yang kini telah menempatkan diri sebagai kota di dunia yang paling banyak dikunjungi turis) telah dinamai Ibnu Batuttah Mall, dengan display dari penemuannya yang disebar di sepanjang koridornya. [ ]

Monday, May 23, 2011

Sudahkah Shalat Kita Menghadap Ke Arah Kiblat?

PENGERTIAN

Kiblat berasal dari bahasa Arab ( قِبۡلَةً۬ ) adalah arah yang merujuk ke suatu tempat dimana bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Ka’bah juga sering disebut dengan Baitullah (Rumah Allah). Menghadap arah merupakan suatu masalah yang penting dalam syariat Islam. Menurut hukum syariat, menghadap kea rah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke arah Ka’bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu. Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa di Palestina, namun pada tahun 624 M setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, atas petunjuk dari wahyu Allah SWT arah Kiblat berpindah ke arah Ka’bah di Mekkah. Berapa ulama berpendapat bahwa turunnya wahyu perpindahan kiblat ini karena Rasulullah hatinya sangat resah karena posisi kiblatnya berlawanan arah dengan Ka’bah. Oleh karena itulah kemudian turun surat Al-Baqoroh ayat 144 yang memerintahkan untuk merubah arah kiblat. Allah SWT berfirman :

قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةً۬ تَرۡضَٮٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُ ۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ (١٤٤)

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.


DALIL  TENTANG ARAH KIBLAT.

1.       Firman Allah :


وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ وَإِنَّهُ ۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (١٤٩)
Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram ; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Baqarah : 149)

2.       Firman Allah :


وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَڪُمۡ شَطۡرَهُ ۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡہُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِى وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِى عَلَيۡكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (١٥٠)

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk (QS. Al-Baqarah : 150).

3.       Sabda Rasulullah.

Dari Abu Hurairah ra katanya : Sabda Rasulullah saw. Di antara Timur dan Barat terletak kiblat ( Ka’bah) (HR. At-Tirmidzi) 

4.       Hadits Rasulullah :

Dari Anas Bahwasannya Rasulullah s.a.w (pada suatu hari) sedang mendirikan sholat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turunlah ayat Al-Quran : “Sesungguhnya kami selalu melihat mukamu menengadah ke langit (berdoa mengadap kelangit). Maka turunlah wahyu memerintahkan Baginda mengadap ke Baitullah (Ka’bah). Sesungguhnya kamu palingkanlah mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Kemudian seorang lelaki Bani Salamah lalu, ketika itu orang ramai sedang ruku’ pada rakaat kedua shalat fajar. Beliau menyeru, sesungguhnya kiblat telah berubah. Lalu mereka berpaling ke arah kiblat. (HR. Muslim).

HUKUM ARAH KIBLAT.

Kiblat sebagai pusat tumpuan umat Islam dalam mengerjakan ibadah dalam konsep arah terdapat beberapa hukum yang berkaitan yang telah ditentukan secara syariat yaitu :

a.       Hukum Wajib.

1.       Ketika shalat fardhu ataupun shalat sunat menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat.
2.       Ketika melakukan tawaf ke Baitullah.
3.       Ketika menguburkan jenazah maka harus diletakkan miring bahu kanan menyentuh liang lahat dan muka menghadap kiblat.

b.      Hukum Sunat

Bagi yang ingin membaca Al-Quran, berdoa, berdzikir, tidur (bahu kanan dibawah) dan lain-lain yang berkaitan.

c.       Hukum Haram

Ketika membuang air besar atau kecil di tanah lapang tanpa ada dinding penghalang.

d.      Hukum Makruh.

Membelakangi arah kiblat dalam setiap perbuatan seperti membuang air besar atau kecil dalam keadaan berdinding, tidur menelentang sedang kaki sedang selunjur ke arah kiblat dan sebagainya.

KONSEP IJTIHAD DALAM MENENTUKAN ARAH QIBLAT.

Semua empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali telah bersepakat bahwa menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Bagi Mazhab Syafii telah menambah dan menetapkan tiga kaidah yang bisa digunakan untuk memenuhi syarat menghadap kiblat yaitu :

1.       Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin)

Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat dengan penuh yakin. Ini yang juga disebut sebagai “Ainul Ka’bah”. Kewajiban tersebut bisa dipastikan terlebih dahulu dengan melihat atau menyentuhnya bagi orangyang buta atau dengan cara lain yang bisa digunakan misalnya pendengaran. Sedangkan bagi seseorang yang berada dalam bangunan Ka’bah itu sendiri maka Kiblatnya adalah dinding Ka’bah.

2.       Menghadap Kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan).

Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada diluar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau kiraan atau disebut sebagai “Jihadul Ka’bah”. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan bertanya kepada mereka yang mengetahui seperti penduduk Makkah atau melihat tanda-tanda kiblat atau “shaff” yang sudah dibuat di tempat-tempat tersebut.

3.       Menghadap Kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad).

Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar Negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat Dzan nya maka ia boleh menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah Kiblat. Namun bagi yang dapat mengira maka ia wajib ijtihad terhadap arah kiblatnya. Ijtihad dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram. Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran menggunakan peralatan modern. Bagi lokasi atau tempat yang jauh seperti Indonesia, ijtihad arah kiblat dapat ditentukan melalui perhitungan falak atau astronomi serta dibantu pengukurannya menggunkan peralatan modern seperti kompas, GPS, theodolit dan sebagainya. Penggunaan alat-alat modern ini akan menjadikan arah kiblat yang kita tuju semakin tepat dan akurat. Dengan bantuan alat dan keyakinan yang lebih tinggi maka hukum Kiblat Dzan akan semakin mendekati Kiblat Yakin. Dan sekarang kaidah-kaidah pengukuran arah kiblat menggunakan perhitungan astronomis dan pengukuran menggunakan alat-alat modern semakin banyak digunakan secara nasional di Indonesia dan juga di Negara-negara lain. Bagi orang awam atau kalangan yang tidak tahu menggunakan kaidah tersebut, ia perlu taqlid atau percaya kepada orang yang berijtihad.

CARA PRAKTIS MENGOREKSI ARAH  KIBLAT

Ada beberapa cara untuk menentukan dan mengukur arah kiblat, diantaranya dengan rumus segitiga bola, menggunakan kompas kiblat, perhitungan manual dengan menggunakan kompas, software arah kiblat, software Google Earth dan lain-lain. Masing-masing cara itu mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Berikut disajikan cara praktis untuk menentukan arah kiblat khusus untuk Kota Surakarta.

Ka’bah terletak di garis lintang 21 derajat 25 menit LU sehingga setiap tahunnya mengalami dua kali perlintasan Matahari yang sedang menjalani gerak semu tahunannya dari garis balik utara (garis lintang 23,5 derajat LU) ke garis balik selatan (garis lintang 23,5 derajat LS) dan sebaliknya. Saat tepat melintas garis lintang Ka’bah dan tepat mneyebrangi meridiannya (garis bujur 39 derajat 50 menit BT), secara astronomis kedudukan Matahari tepat di atas Ka’bah. Sehingga setiap benda yang tersinari cahaya Matahari saat itu, sepanjang posisinya tepat mengarah ke pusat Bumi, maka baying-bayangnya tepat mengarah ke Ka’bah. Dunia ilmu falak menyebut situasi itu sebagai Istiwa’ Adham, Istiwa’ Utama atau Rashdul Qiblat. Sementara hari terjadinya peristiwa tersebut dinamakn Hari Kiblat atau Yaumul Qiblah atau Qibla Day.

Tahun ini Hari jatuh pada Sabtu 28 Mei 2011 pukul 16.17 WIB. Inilah saatnya untuk mengukur kembali arah kiblat kediaman/ tempat ibadah kita dengan cara sederhana namun mempunyai tingkat ketelitian sangat tinggi. Praktiknya cukup dengan memasang bandul bertali, (lot) yang digantung, sehingga posisi tali (saat stasioner) otomatis langsung mengarah ke pusat Bumi. Setelah tiba saatnya, baying-bayang tali tinggal ditandai dan digaris di permukaan tanah/ lantai dan inilah arah kiblat yang tepat. Jangan lupa gunakan jam/ pengukur waktu yang tepat, sebab inilah kuncinya. Untuk membuat sebuah jam tepat bisa dicocokkan (dikalibrasikan) dengan siaran berita radio RRI/ BBC atau dengan menelfon nomor melalui jaringan PT Telkom, baik telpon rumah maupun nirkabel (ponsel).

Bila pada hari dan jam itu langit mendung, jangan khawatir. Dengan diameter nampak (apparent diameter) Matahari sebesar 0,5 derajat maka Hari Kiblat sebenarnya terjadi sejak 27 hingga 29 Mei 2011 pada jam 16.17 WIB.  

Sunday, May 22, 2011

MUTIARA HIKMAH

·         Dari Abu Dzarr r.a. berkata, “Rasulullah SAW berkata kepadaku, “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbaikan suatu perbaikan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis” (HR. Muslim)

·         Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Jauhilah oleh semua sifat dengki/ iri hati itu, karena sesungguhnya sifat dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana apai menghabiskan kayu bakar “ (HR Abu Dawud)

SHOLAT TEPAT WAKTU

                Berkata Siti ‘Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda : “Allah Ta’ala telah berfirman : sesungguhnya Aku telah berjanji dengan Dzat-Ku terhadap hamba-Ku, bahwa apabila dia menunaikan shalat tepat pada waktunya, niscaya Aku tidak akan menyaksikannya dan bahwa Aku akan memasukannya ke dalam surge tanpa hisap lagi”.


(HR. Hakim)

Takafur

AL ‘ADL
MAHA ADIL

                Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maa-idah, 5:8)

                Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan di antara para hamba-Nya, di dunia dan akhirat.

                Allah, yang maha mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Melihat, mengatur seluruh alam semesta dengan kebijaksanaan dan keadilan mutlak. Seluruh amal manusia sepanjang hidupnya akan ditimbang dalam neraca Kemahadilan Allah. Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa pelaku kejahatan takkan lolos tanpa hukuman atas dosa mereka, sebaliknya perkataan baik walau hanya sepatah akan diberi pahala :

                “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah, 99:7-8.

                Kebaikan dan keburukan tidaklah sama di mata Allah, dan Dia berkuasa atas keduanya dengan keadilan mutlak. Tempat di mana keadilan mutlak Allah dapat disaksikan dengan jelas adalah akhirat. Allah pasti tidak pernah lupa tentang sesuatu pun, Dia-lah yang Maha Menepati janji. Setiap manusia, tanpa kecuali, akan mendapatkan balasan di akhirat atas segala perbuatannya di dunia. Mereka yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan menerima pahala terbaik dari-Nya.

                “Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi’aat, 79:37-41)

Sakaratul Maut & Siksa Kubur



                Bagaimanakah sebenarnya proses sakaratul maut itu telah berlaku pada manusia? Dalam hal ini baginda Rasulullah Saw telah memberitahukan kita : Apabila telah sampai ajal seseorang, maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil di dalam badannya, lalu mereka menarik rohnya melalui kedua telapak kaki hingga sampai kelutut. Setelah itu datang sekumpulan malaikat yang lain, masuk untuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut, kemudian mereka pun keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada, setelah itu mereka pun keluar.

                Dan akhir sekali, datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong, itulah yang dinamakan dengan saat nazak orang tersebut.

                Rasulullah S.A.W. melanjutkan :  “Jika orang yang nazak itu orang beriman, maka malaikat Jibrail. akan menebarkan sayapnya yang kananya sehingga orang yang nazak  itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Di saat orang yang beriman itu melihat syurga, dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya, akibat kerinduannya yang teramat sangat kepada syurga, dia melihat terus apa yang dilihatnya pada sayap Jibrail.”  Adapun, jika orang yang nazak itu  orang munafik, maka Jibrail akan menebarkan sayap kirinya.

                Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya, akibat terlalu takutnya dia melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya kelak.

                Ketika ruh manusia telah keluar dari jasadnya, berarti dia telah memasuki alam baru, bukan alam dunia lagi melainkan alam Barzah, alam pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, menunggu hari perhitungan. Rasulullah Saw. Bersabda :  “Kuburan adalah awal kehidupan akhirat. Jika seseorang selamat daripadanya, maka kehidupan setelahnya menjadi lebih mudah. Namun, jika ia tidak selamat lebih mengerikan.”           (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

                Umar bin Abdul Aziz rahimahullah suatu hari menasehati para sahabatnya, beliau berkata :  Jika kalian melewati kuburan, lihatlah, betapa sempitnya rumah-rumah mereka sekarang.

-          Tanyakan pula kepada orang-orang kaya, masih tersisakah harta mereka?
-          Tanyakan pula kepada orang-orang miskin di antara mereka, masih tersisakah kemiskinan mereka?
-      Tanyakan tentang lisan yang dengannya mereka berbicara, sepasang mata yang dengannya mereka melihat indahnya pemandangan?
-        Tanyakan pula tentang kulit-kulit nan lembut dan wajah-wajah cantik jelita, tubuh-tubuh yang halus-mulus, apa yang diperbuat oleh ulat-ulat di balik kain kafan mereka? Lisan-lisan itu telah hancur, wajah-wajah cantik jelit aitu telah dimakan ulat, anggota badan mereka telah terpisah-pisah berserakan.
-          Lalu di mana pelayan-pelayan mereka yang setia?
-          Di mana tumpukan harta dan sederetan pangkat mereka?
-          Di mana rumah-rumah gedong mereka yang banyak dan menjulang tinggi?
-          Di mana kebun-kebun mereka yang rindang dan subur?
-          Di mana pakaian-pakaian mereka yang indah dan mahal?
-          Di mana kendaraan-kendaraan mewah kesuksesan mereka?
-          Bukankah mereka kini berada di tempat yang sangat sunyi?
-          Bukankah siang dan dan malam bagi mereka sama saja?
-          Bukankah mereka berada dalam kegelapan?

-          Mereka telah terputus dengan dengan amal mereka. Mereka telah berpisah dengan orang-orang yang sangat mereka cintai, dengan harta yang mereka puja-puja, dengan gaya hidup yang mereka banggakan. Orang-orang yang mereka cintai tidak mau ikut bersamanya, harta yang mereka tinggalkan malah akan menjadi beban jika digunakan bukan di jalan yang Allah ridhai. Ketika itu, yang masih bermanfaat hanyalah tiga : shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang shaleh yang mendo’akan dirinya.” Demikianlah nasehat dari Umar bin Abdul Aziz.

Muhammad bin Shabih berkata, :     “telah sampai berita kepada kami, bahwa manakala seseorang telah diletakkan di kuburannya, lalu disiksa atau mendapatkan sesuatu yang dibenci, tetangga kuburnya dari orang-orang yang telah meninggal sebelumnya berkata kepadanya, ‘Wahai pendatang baru, tidakkah engkau mengambil pelajaran dari kami? Tidakkah engkau merenungkan kematian kami yang mendahuluimu? Bukankah engkau mengetahui bahwa amal kami telah terputus, sementara engkau masih diberi waktu? Mengapa tidak engkau kejar apa yang tidak diperoleh oleh saudaramu ini?

Relevan dengan firman Allah Swt :   “Hingga datanglah kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ya tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shaleh dari apa yang telah aku tinggalkan (dahulu). Sekali-kali tidak. Itu hanyalah omongan belaka (yang tidak bermanfaat) dan di hadapan mereka ada dinding pembatas sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-mu’minun : 99-100).

Sebab Siksa Kubur

Didebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziah rahimahullah ta’ala, bahwa siksa kubur itu ditimpakan karena berbagai macam dosa dan maksiat, di antaranya adalah :
1.       Adu domba dan menggunjing.
2.       Tidak bersuci (cebok) setelah buang air kecil.
3.       Shalat dalam keadaan tidak suci (kotor).
4.       Berdusta.
5.       Lalai dan malas dalam mengerjakan sholat.
6.       Tidak mengeluarkan zakat.
7.       Berzina.
8.       Mencuri.
9.       Berkhianat.
10.   Memfitnah sesama umat Islam.
11.   Makan riba.
12.   Tidak menolong orang yang dizhalimi.
13.   Minum khamar (kalau jaman sekarang seperti : minum sempain, ngeplay, ngegele, sabu-sabu, ekstasy, dan sejenisnya.
14.   Memanjangkan kain hingga di bawah mata kaki (menyombongkan diri).
15.   Membunuh.
16.   Mencaci sahabat Nabi.
17.   Mati dalam keadaan membawa bid’ah..

Yang Menyebabkan Selamat dari Siksa Kubur

                Adapun kiat agar kita tidak terkena siksa kubur, Imam Ibnu Qayyim memberitahukan sebagai berikut : sebab-sebab kita di selamatka daari siksa kubur adalah dengan menjauhkan berbagai macam maksiat dan dosa. Untuk itu, Ibnu Qayyim menganjurkan, hendaknya setiap muslim melakukan perhitungan atas dirinya setiap hari, tentang apa saja dosa dan kebaikan yang telah dilakukannya pada hari itu. Setelah itu ia memperbaharui taubatnya kepada Allah setiap hari, terlebih dia saat hendak tidur malam. Jika ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia meninggal dalam keadaan telah bertaubat. Jika ia bangun tidurnya, ia bersyukur karena ajalnya masih ditangguhkan. Dengan demikian, ia masih dkesempatan beribadah kepada Rabbnya dan mengejar amal yang belum dilakukannya, Imam Ibnu Qayyim menambahkan,   “sebelum tidur hendaknya pula dia berada dalam keadaan berwudhu, senantiasa mengingat Allah dan mengucapkan dzikir-dzikir yang disunnahkan Nabi saw sampai ia tidur atau tertidur. Jika seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya dia akan diberi kekuatan untuk melakukannya.

                Kemudian Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa ketaatan yang bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur, di antaranya adalah :

1.       Rajin beribadah dan taat kepada Allah Swt dengan Ikhlas.
2.       Mati syahid di jalan-Nya.
3.       Membaca surat Al-Mulk.
4.       Meninggal karena sakit, dan terakhir :
5.       Meninggal dunia pada hari Jum’at.
Semoga Allah jadikan kita orang yang difahamkan masalah agama..
Wallahu ‘alambishawab.

GET $ 1000 DOLLARS FROM PAYPAL

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PRIZEGOD

Prizegod.com